search...

Senin, 21 November 2016

Pengertian Input dan Output dan Fungsi nya Pada Komputer


A. Pengertian dan fungsi peralatan input pada komputer

Peralatan input pada komputer adalah perangkat yang memberikan perintah langsung atau data ke peralatan proses pada komputer untuk diproses kemudian dikeluarkan berupa informasi kepada pengguna. Peralatan input merupakan bagian komputer yang mempunyai peranan yang sangat penting karena langsung berhubungan dengan user atau pengguna komputer. Berikut adalah macam-macam peralatan input pada komputer dan fungsi masing-masing komponen tersebut.

Macam-macam dan fungsi peralatan input komputer :

Keyboard

Merupakan peralatan input pada komputer yang berfungsi untuk memasukan data atau perintah berupa angka, huruf maupun symbol, Keboard disebut juga papan ketik pada komputer. keyboard sendiri terdiri dari susunan huruf A s/d Z dan angka 0 s/d 9 dan ada beberapa symbol seperti titik dua, koma, titik dan lain-lain, juga terdapat tobol sortcut yang memudahkan kita untuk mengoperasikan komputer.

Mouse

Mouse adalah peralatan input pada komputer yang berfungsi untuk menggerakan pointer pada layar monitor. Mouse sangat berguna untuk sistem operasi yang berbasis grafis.
Joy Stick

joy Stick adalah alat input yang digunakan untuk memasukan perintah untuk menggerakan permainan pada komputer.

Scanner

Scanner adalah alat input yang mempunyai fungsi hampir mirip dengan mesin foto copy, akan tetapi dengan scanner data dapat diubah dalam bentuk file sehingga dapat disimpan ke dalam harddisk komputer.

B. Pengertian dan Fungsi Peralatan Output Pada Komputer

Peralatan Output pada komputer adalah merupakan komponen komputer yang berfungsi menghasilkan informasi yang diperoleh dari hasil proses dari peralatan proses komputer. Output hasil proses dari komputer digolongkan menjadi 4 bentuk yaitu: huruf, gambar, suara dan video. Peralatan output akan menghasilkan informasi untuk manusia sehingga bisa dibaca, dilihat, didengar dan dipahami.
Komputer akan memproses informasi dari peralatan input komputer kemudian menampilkan hasil proses dalam bentuk informasi ke pengguna komputer (manusia). Peralatan output sendiri sangat penting karena akan memberikan informasi secara langsung ke pengguna. Perangkat output juga menjadi suatu keharusan dalam sistem komputer meskipun beberapa peralatan output komputer tersebut dalam kategori periperal komputer / perangkat tambahan.

Macam-macam dan fungsi peralatan output komputer :

Printer

Printer merupakan peralatan output pada komputer yang berfungsi mencetak hasil dari proses komputer ke dalam media kertas.Hasil cetakan dari printer dapat berupa gambar maupun tulisan. Printer merupakan komponen komputer yang digolongkan ke dalam peripheral yang sangat penting untuk membantu kerja manusia. Berdasarkan media cetaknya printer ada beberapa macam, yaitu: printer inkjet, printer laserjet dan printer dotmatrik.

Monitor

Monitor merupakan peralatan output pada komputer yang berfungsi untuk menampilkan grafik atau gambar sehingga informasi dapat diterima oleh manusia.

Speaker

Speaker adalah peralatan output pada komputer yang berfungsi ;untuk mengeluarkan output berupa suara. Speaker akan terhunbung dengan soudcard pada komputer agar bisa menerima hasil proses berupa suara dari komputer.

Selasa, 15 Maret 2016

Makalah Tentang Kesenian jawa Barat

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”macam-macam kesenian peninggalan sosial budaya Jawa Barat” yang merupakan salah satu tugas dari mata pelajaran Pendidikan Lingkungan hidup (PLH).
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat atau yang sering kita sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di Indonesia merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kebudayaan daerah merupakan faktor utama berdirinya kebudayaan yang lebih global, yang biasa kita sebut dengan kebudayaan nasional. Maka atas dasar itulah segala bentuk kebudayaan daerah akan sangat berpengaruk terhadap budaya nasional, begitu pula sebaliknya kebudayaan nasional yang bersumber dari kebudayaan daerah, akan sangat berpebgaruh pula terhadap kebudayaan daerah / kebudayaan lokal.






Penyusun


DAFTAR ISI 

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Makalah
D. Manfaat Makalah
E. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Seni musik dan suara dari jawa barat
B. Angklung dan Degung
C. Rampak gendang dan Rengkong
D. Kuda renggong dan Kecapi suling
E. Seni tarian dari jawa barat
F. Tari jaipong dan Tari ketuk tilu
G. Tari merak dan Tari topeng
H. Kuda lumping
I. Reog dan Wayang golek
J. Seni Bela Diri
BAB III SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan kemajuan jaman, tradisi dan kebudayaan daerah yang pada awalnya dipegang teguh, di pelihara dan dijaga keberadaannya oleh setiap suku, kini sudah hampir punah. Pada umumnya masyarakat merasa gengsi dan malu apabila masih mempertahankan dan menggunakan budaya lokal atau budaya daerah. Kebanyakan masyarakat memilih untuk menampilkan dan menggunakan kesenian dan budaya modern daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri yang sesungguhnya justru budaya daerah atau budaya lokallah yang sangat sesuai dengan kepribadian bangsanya. Mereka lebih memilih dan berpindah ke budaya asing yang belum tetntu sesuai dengan keperibadian bangsa bahkan masyarakat lebih merasa bangga terhadap budaya asing daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri.
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, penulis tertarik untuk membahas masalah tersebut yang dituangkan dalam sebuah makalah dengan judul “Kesenian Jawa Barat“.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah yang akan penulis bahas dalam penuyusunan makalah ini ialah:
1. Apa definisi rampak gendang?
2. Bagaimana cara penyajian kuda renggong?
3. Apa saja kesenian dari jawa barat?
4. Apa definisi tari merak?
5. Apa pengertian semua tarian dari jawa barat?
6. Apa saja Jenis-jenis seni bela diri dari Jawa Barat?

C. Tujuan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan makalah ini ialah untuk mengetahui:
1. Definisi rampak gendang.
2. Cara penyajian kuda renggong.
3. kesenian dari jawa barat.
4. Definisi tari merak.
5. Pengertian semua tarian dari jawa barat.
6. Jenis-jenis Seni Bela Diri dari jawa barat


D. Manfaat Makalah
Dengan di susunnya makalah ini di harapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis tentang budaya lokal.

E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini ialah dengan menggunakan meteode teknologi informasi dan komunikasi yang menunjang terhadap materi tersebut.



















BAB II
PEMBAHASAN
Seni musik dan suara dari jawa barat
A. Angklung

Angklung adalah sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus yang ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya angklung masih sebatas kepentingan kesenian local atau tradisional.
B. Degung

Degung merupakan sebuah kesenian sunda yang biasanya dimainkan pada acara hajatan. Kesenian degung ini digunakan sebagai musik pengiring/pengantar. Degung ini merupakan gabungan dari peralatan musik khas Jawa Barat yaitu,Gendang, Goong, Kempul, Saron, Bonang, Kacapi, Suling, Rebab, dan sebagainya. Degung merupakan salah-satu kesenian yang paling populer di Jawa Barat, karena iringan musik degung ini selalu digunakan dalam setiap acara hajatan yang masih menganut adat tradisional, selain itu musik degung juga digunakan sebagai musik pengiring hampir pada setiap pertunjukan seni tradisional Jawa Barat lainnya. Selain seni tari, tanah Sunda juga terkenal dengan seni suaranya. Dalam memainkan Degung biasanya ada seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu Sunda dengan nada dan alunan yang khas. Penyanyi ini biasanya seorang wanita yang dinamakan Sinden. Tidak sembarangan orang dapat menyanyikan lagu yang dibawakan Sinden karena nada dan ritme-nya cukup sulit untuk ditiru dan dipelajari.
C. Rampak gendang

Rampak Gendang merupakan kesenian yang berasal dari Jawa Barat. Rampak Gendang ini adalah pemainan menabuh gendang secara bersama-sama dengan menggunakan irama tertentu serta menggunakan cara-cara tertentu untuk melakukannya, pada umumnya dimainkan oleh lebih dari empat orang yang telah mempunyai keahlian khusus dalam menabuh gendang. Biasanya rampak gendang ini diadakan pada acara pesta atau pada acara ritual.
D. Rengkong

Rengkong adalah salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Sunda. Muncul sekitar tahun 1964 di daerah Kabupaten Cianjur dan orang yang pertama kali memunculkan dan mempopulerkannya adalah H. Sopjan. Bentuk kesenian ini sudah diambil dari tata cara masyarakat sunda dahulu ketika menanam padi sampai dengan menuainya.
E. Kuda renggong

Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yang terdapat di Kabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara penyajiannya yaitu, seekor kuda atau lebih di hias warna-warni, budak sunat dinaikkan ke atas punggung kuda tersebut, Budak sunat tersebut dihias seperti seorang Raja atau Satria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai Bendo, takwa dan pakai kain serta selop.
F. Kecapi suling

Kacapi Sulingadalah kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yaitu permainan alat musik tradisional yang memadukan suara alunan Suling dengan Kacapi (kecapi), iramanya sangat merdu yang biasanya diiringi oleh Mamaos (tembang) Sunda yang memerlukan cengkok/ alunan tingkat tinggi khas Sunda, yang pada umumnya nyanyian atau lagunya dibawakan oleh seorang penyanyi perempuan, yang dalam bahasa sunda disebut Sinden. Kacapi suling ini biasanya digunakan untuk mengiringi nyanyian sunda. Sunda. Kacapi Suling berkembang pesat di daerah Cianjur dan kemudian menyebar kepenjuru Parahiangan Jawa Barat dan seluruh dunia.

Seni Tarian dari jawa barat

A. Tari jaipong

Tanah Sunda (Priangan) dikenal memiliki aneka budaya yang unik dan menarik, Jaipongan adalah salah satu seni budaya yang terkenal dari daerah ini. Jaipongan atau Tari Jaipong sebetulnya merupakan tarian yang sudah modern karena merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yaitu Ketuk Tilu.Tari Jaipong ini dibawakan dengan iringan musik yang khas pula, yaituDegung. Musik ini merupakan kumpulan beragam alat musik seperti Kendang, Go’ong, Saron, Kacapi, dsb. Degung bisa diibaratkan ‘Orkestra’ dalam musik Eropa/Amerika. Ciri khas dari Tari Jaipong ini adalah musiknya yang menghentak, dimana alat musik kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang, berpasangan atau berkelompok. Sebagai tarian yang menarik, Jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan atau pesta pernikahan.
B. Tari Ketuk tilu

Ketuk Tilu adalah suatu tarian pergaulan dan sekaligus hiburan yang biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkawinan, acara hiburan penutup kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas. Pemunculan tari ini di masyarakat tidak ada kaitannya dengan adat tertentu atau upacara sakral tertentu tapi murni sebagai pertunjukan hiburan dan pergaulan. Oleh karena itu tari ketuk tilu ini banyak disukai masyarakat terutama di pedesaan yang jarang kegiatan hiburan.

C. Tari merak


Tari merak merupakan tarian tradisi suku sunda yang menggambarkan burung-burung merak yang sedang menari dengan gembira , tarian ini dibawakan oleh penari wanita-wanita sunda . dan biasanya tarian merak ini dibawakan untuk acara perkawinan ataupun menyambut tamu yang datang berkunjung ke tanah sunda .

D. Tari topeng

Tari topeng ini adalah tarian suku sunda yang dibawakan oleh sekelompok orang penari pria atau wanita, yang menggunakan topeng khas suku sunda , dan biasanya tarian ini untuk menyambut tamu-tamu yang ingin berkunjung datang , dan sebagai pementasan pada saat acara-acara tertentu .Seperti perkawinan,khitanan,dan sebagainya.

E. Kuda lumping

Kuda Lumpingmerupakan kesenian yang beda dari yang lain, karena dimainkan dengan cara mengundang roh halus sehingga orang yang akan memainkannya seperti kesurupan. Kesenian ini dimainkan dengan cara orang yang sudah kesurupan itu menunggangi kayu yang dibentuk seperti kuda serta diringi dengan tabuhan gendang dan terompet. Keanehan kesenian ini adalah orang yang memerankannya akan mampu memakan kaca serta rumput. Selain itu orang yang memerankannya akan dicambuk seperti halnya menyambuk kuda. Biasanya kesenian ini dipimpin oleh seorang pawang. Kesenian ini merupakan kesenian yang dalam memainkannya membutuhkan keahlian yang sangat husus, karena merupakan kesenian yang cukup berbahaya.

F. Reog


Di daerah Jawa Barat terdapat kesenian yang disebutReog, kesenian ini pada umumnya ditampilkan dengan Bodoran, serta diiringi dengan musik tradisional yang disebut Calung. Kesenian ini biasanya dimainkan oleh beberapa orang yang mempunyai bakat melawak dan berbakat seni. Kesenian ini ditampilkan dengan membawakan sebuah alur cerita yang kebanyakan cerita yang dibawakan adalah cerita lucu atau lelucon.
G. Wayang golek

Wayang Golek merupakan kesenian tradisional dari Jawa Barat, yaitu pementasan sandiwara boneka yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh seorang sutradara merangkap pengisi suara yang disebut Dalang. Seorang Dalang memiliki keahlian dalam menirukan berbagai suara manusia. Seperti halnya Jaipong, pementasan Wayang Golek diiringi musikDegung lengkap denganSinden nya. Wayang Golek biasanya dipentaskan pada acara hiburan, pesta pernikahan atau acara lainnya. Waktu pementasannya pun unik, yaitu pada malam hari (biasanya semalam suntuk) dimulai sekitar pukul 20.00 – 21.00 hingga pukul 04.00 pagi. Cerita yang dibawakan berkisar pada pergulatan antara kebaikan dan kejahatan (tokoh baik melawan tokoh jahat). Ceritanya banyak diilhami oleh budaya Hindu dari India, sepertiRamayana atau Perang Baratayudha. Tokoh-tokoh dalam cerita mengambil nama-nama dari tanah India. Dalam Wayang Golek, ada ‘tokoh’ yang sangat dinantikan pementasannya yaitu kelompok yang dinamakan Purnakawan, seperti Dawala danCepot. Tokoh-tokoh ini digemari karena mereka merupakan tokoh yang selalu memerankan peran lucu (seperti pelawak) dan sering memancing gelak tawa penonton. Seorang Dalang yang pintar akan memainkan tokoh tersebut dengan variasi yang sangat menarik.

Seni Bela Diri Jawa Barat

Perkembangan Seni Bela Diri atau Seni Olah Raga Bela Diri yang berada di tatar Sunda atau Jawa Barat tidak terlepas dari sejarah asal dan jenis Bela Diri tersebut yang berkembang di masyarakat Sunda,hal ini bisa dikelompokan menurut Rumpun Bela Diri yang akan saya bahas seperti di bawah ini :

1.Godot dan Pencak Karuhun


Gerakan dan jurus-jurus Godot sama seperti Pencak Silat,namun sangat mengutamakan isi atau semua gerakan dan jurus seakan melakukan bela diri/perkelahian yang sesungguhnya,dan biasanya Bela Diri Godot dan Pencak karuhun tidak diiringi tetabuhan seperti Pencak Silat pada umumnya.
Lokasi: Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang

2.Sampyong


Sampyong adalah bela diri kekuatan tubuh yang mengarah kepada permainan dan menguji sportifitas para pemainnya,karena masing-masing dibekali alat pukul dari rotan sepanjang 60 cm dengan dua orang pemain saling berhadapan dan satu orang wasit (Melandang),namun tetap mengutamakan keselamatan karena kedua pemain Sampyong harus menggunakan tutup kepala yang terbuat dari kain yang diisi dengan bahan-bahan empuk sebagai pelindung kepala dan dinamai Balakutak.
3.Bajing Kiring


Bermula pada awal tahun 1931,perkumpulan Pencak Silat ini dikenal dengan nama "Panca Wargi",sampai pada tahun 1945 perguruan Pencak Silat ini di berikan kepercayaan untuk melatih tentara Batalyon 317 di daerah Karawang.
Pada era tahun 1980-an, perguruan ini berganti nama menjadi "Bajing Kiring" setelah diadakan pelantikan kepengurusan yang baru tepatnya tanggal 27 Februari 1982.
Lokasi: Kecamatan Cikampek

4.Benjang

Benjang,merupakan pertunjukan yang mirip dengan gerak Pencak Silat,pada lagu Rincik Manik dan Ela-ela timbulah gerak yang di sebut Do gong,yaitu permainan saling mendorong,dua lawan mempergunakan halu (antan) dalam sebuah Iingkaran atau arena, yang terseret keluar di nyatakan kalah dan dari Dogong berkembang menjadi Seredan yaitu saling mendesak,mendorong tanpa alat apapun.
Alamat: Kecamatan Ujung Berung Kabupaten Bandung
5.Padingdang

Pertunjukan Padingdang sebagai pengiring gerak ibingan dimulai dengan lagu ngaleunggeuh,yaitu lagu pembukaan,disusul dengan lagu Ngarajah yang berfungsi sebagai pasaduan (Sasadu/Mohon Ijin) kepada para leluhur.
Lagu yang dibawakan pada bagian ini adalah kidung atau Kembang Gadung,dan selanjutnya pertunjukan Padingdang yang mirip dengan pertunjukan Kendang Pencak.
Lokasi: Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sumedang

6.Pencak Cikalong

Pencak Cikalong merupakan hasil karya R.H.Ibrahim,turunan ke-9 Dalem Cikundul,Majalaya Kecamatan Cikalong Kulon,R.H.Ibrahim lahir pada tahun 1816,keahlian Pencak Silatnya didapatkan dari leluhumya.
Gerak Pencak Cikalong ini,memiliki banyak gerak tangan di atas dengan sikap tertutup,hal ini memiliki kelebihan sukar untuk di jamah tangan lawan,selain itu pukulan dan bantingan sangat di pentingkan dalam Pencak aliran Cikalong.
Alamat: Kecamatan Cikalong (dengan pentebaran di daerah Bandung, Garut, Tasikmalaya, dan daerah lainnya di Tatar Sunda).

7.Pencak Cimande

Pencak Cimande dipopulerkan dan disebarkan oleh Bapak Sakir,beliau adalah tokoh Pencak Silat yang memiliki banyak pengetahuan tentang Pencak Silat serta memiliki perihal ilmu kebatinan,karena itulah gerak-gerak Pencak Silat ciptaan Bapak Sakir populer dengan sebutan Pencak Silat Cimande,mengambil asal daerahnya yaitu Kecamatan Cimande.
Lokasi: Kecamatan Cimande



8.Pencak Syahbandar

Kebesaran nama Pencak Silat Syahbandar diambil dari nama Guru Pencak Silat di daerah Wanayasa dan Purwakarta yaitu Muhamad Kosim,atau biasa disebut Mama Syahbandar.
Konon Mama Syahbandar pernah berkata bahwa air kopi menjadi minuman umum bagi orang Cianjur,sedangkan sisanya diminum oleh orang Purwakarta dan Wanayasa,dalam hal ini jelaslah bahwa pencak silat yang diajarkan oleh Mama Syahbandar yang tersebar di wilayah Purwakarta,pada mulanya berasal dari Cianjur.
Lokasi: Kecamatan Wanayasa

9.Pencak Silat

Pencak Silat di Tatar Sunda pernah terbagi dua kelompok yaitu kelompok yang di sebut Kembang (bunga) dan kelompok yang di sebut Buah (buah),di samping itu ada yang di sebut jurus,yaitu serentetan gerakan pokok yang merupakan dasar kedua kelompok tadi.

Maka Penca Kembang adalah rangkaian dari beberapa jurus menjadi suatu tarian,yang terdiri dari ragam tarian sesuai dengan pola irama tempo dan tenaga yang di gunakan,umpamanya yang di sebut Tepak Dua,yaitu ragam Tari Penca yang berpijak pada gaya tabuhan yang bemama Tepak Dua dan termasuk yang paling lambat dan tariannya pun lambat serta gerakannya lebih nampak gemulai.




BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki berbagai kebudayaan, mulai dari adat istiadat sehari-hari, kesenian, acara ritual, dan lain-lain.
Semua itu membuktikan bahwa jawa barat merupakan provinsi yang kaya akan budaya daerah. Diantara sekian banyak kebudayaan yang dimiliki jawa barat, ada beberapa kebudayaan yang sangat populer, diantaranya adalah sebagai berikut :
 Angklung
 Degung
 Rampak gendang
 Rengkong
 Kuda rennggong
 Kecapi suling
 Tari jaipong
 Tari Ketuk tilu
 Tari merak
 Tari topeng
 Kuda lumping
 Reog
 Wayang golek
 Seni Bela Diri

B. Saran
Budaya daerah merupakan faktor utama berdirinya kebudayaan nasional, maka segala sesuatu yang terjadi pada budaya daerah akan sangat mempengaruhi budaya nasional. Atas dasar itulah, kita semua mempunyai kewajiban untuk menjaga, memelihara dan melestarikan budaya baik budaya lokal atau budaya daerah maupun budaya nasional, karena budaya merupakan bagian dari kepribadian bangsa.

Daftar Pustaka

Atmadibrata, E. (2006). Khasanah Kesenian Daerah Jawa Barat. Bandung:
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat & YayasanKebudayaanJayaLoka.
Djajakusuma, G. (1978). Pengenalan Wayang Golaek Purwa di Jawa Barat.
Bandung: Lembaga Kesenian Bandung.Gazalba,S.(1974).AntropologiBudayaII.
Jakarta: Bulan Bintang. Gottschlak, L. (1986). Mengerti Sejarah.
Jakarta: Universita Indonesia Press. Harjawirogo. (1962).SejarahWayangPurwa.
Jakarta: Perpustakaan Keguruan Kementrian PP&K. Ismaun. (2005).
Pengantar Belajar Sejarah Sebagai Ilmu dan Wahana Pendidikan.
Bandung: Historia Utama Press. Kartodirdjo, S. (1993). Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. . (1990). Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Kayam, U. (1981). Seni, Tradisi, Masyarakat.
Jakarta: Sinar Harapan. Koentjaraningrat. (1972). Seminar Kesenian: Sarana Perkembangan Kesenian.
Surakarta. . (1990). Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan.
Jakarta: Gramedia. . (1994). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia.
Jakarta: Djambatan. . (1998). Metode-metode Penelitian Masyarakat
. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kubarsah, R. U. (1998). Waditra, Mengenal Alat-alat Kesenian Daerah Jawa Barat.

Senin, 07 Maret 2016

MAKALAH TENTANG MACAM-MACAM MAKANAN SEBAGAI PENINGGALAN SOSIAL BUDAYA YANG BERSEJARAH DI JAWA BARAT

MAKALAH TENTANG MACAM-MACAM PENINGGALAN SOSIAL BUDAYA YANG BERSEJARAH DI JAWA BARAT
(MAKANAN)


NAMA ANGGOTA :
RIDWAN MAULANA
DHEANI SOFA M
ARIF ZAMIN M
YULI YLIANTI
DUDU DURAHMAN

KELAS : IX C

SMPN 1 PADAKEMBANG


Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”macam-macam makanan khas Jawa Barat” yang merupakan salah satu tugas dari mata pelajaran Pendidikan Lingkungan hidup (PLH).
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat atau yang sering kita sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di Indonesia merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kebudayaan daerah merupakan faktor utama berdirinya kebudayaan yang lebih global, yang biasa kita sebut dengan kebudayaan nasional. Maka atas dasar itulah segala bentuk kebudayaan daerah akan sangat berpengaruk terhadap budaya nasional, begitu pula sebaliknya kebudayaan nasional yang bersumber dari kebudayaan daerah, akan sangat berpebgaruh pula terhadap kebudayaan daerah / kebudayaan lokal.






Penyusun











DAFTAR ISI
MAKANAN-MAKANAN KHAS JAWA BARAT
• Nasi timbel,.......................................................................................................................
• Nasi Liwet Sunda.............................................................................................................
• Nasi Tutug Oncom...........................................................................................................
• Karedok............................................................................................................................
• Lotek.................................................................................................................................
• Sayur asem.......................................................................................................................
• Tumis Tauco....................................................................................................................
• Aneka Pepes......................................................................................................................
• Bakakak hayam...............................................................................................................
• Empal Gepuk...................................................................................................................
• Soto Bandung...................................................................................................................
• Sate Maranggi..................................................................................................................
• Empal Gentong................................................................................................................
• Laksa Bogor ....................................................................................................................
• Doclang, ketupat..............................................................................................................
• Kupat Tahu......................................................................................................................
• Asinan...............................................................................................................................
• Baso Tahu........................................................................................................................
• Batagor, Baso Tahu Goreng...........................................................................................




Masakan Sunda
Masakan Sunda adalah masakan dari masyarakat Sunda di Jawa Barat, Indonesia. Ini adalah salah salah satu makanan yang paling populer di Indonesia. Makanan Sunda memiliki ciri kesegaran bahannya, lalap terkenal dimakan dengan sambal dan juga karedok menunjukkan kegemaran orang Sunda terhadap sayuran mentah segar. Berbeda dengan masakan minangkabau yang kaya rasa dan pedas dengan kandungan bumbu kari dan santan yang kental, masakan Sunda menampilkan citarasa yang ringan, sederhana, dan jelas; berkisar antara gurih asin, asam segar, manis ringan, dan pedas.
Sambal terasi adalah bumbu penyerta yang paling lazim dalam hidangan Sunda, dimakan dengan lalab atau tahu dan tempe goreng. Sayur asem dengan kuah berbumbu asam jawa mungkin adalah sayur yang paling populer dalam hidangan Sunda. Jenis sayuran populer lain adalah Soto Bandung, sejenis soto dengan irisan daging sapi dan lobak, serta mie kocok, sejenis mi dengan daging sapi dan kikil.
Rumah makan Sunda
Di rumah makan atau warung nasi Sunda, lazim makan dengan hanya menggunakan tangan. Biasanya disediakan kobokan, semangkuk air bersih yang kadang diberi irisan jeruk nipis agar memberikan aroma segar. Kobokan ini digunakan untuk membersihkan tangan sebelum dan sesudah makan. Kobokan biasanya juga disediakaan di rumah makan Padang dan rumah makan hidangan laut.
Rumah makan tradisional Sunda dan Jawa biasanya menyajikan cara bersantap secara lesehan; yaitu makan sambil duduk di atas tikar. Makanan biasanya disajikan di atas meja rendah, atau kadang di atas tikar. Cara makan ini sama dengan cara bersantap tradisional Jepang di atas tatami. Rumah makan tradisional Sunda di daerah pedesaan ada yang bergaya saung, yaitu beberapa bangunan rumah panggung kecil yang umumnya dibangun di atas kolam ikan. Kolam ikan itu biasanya sekaligus memelihara ikan mas dan gurami yang dapat dipilih langsung oleh pelanggan untuk langsung dimasak.
Dalam kebudayaan populer Indonesia, rumah makan Sunda biasanya dapat dicirikan dengan nama "Kuring", sehingga muncul salah kaprah mengenai makanan istilah "masakan kuring". Istilah kuring dalam bahasa Sunda berarti 'saya', 'aku' atau gue secara informal, santai, dan agak kasar. Penamaan ini akibat berbagai rumah makan berusaha meniru nama rumah makan Sunda terkenal Lembur Kuring (Bahasa Sunda: "Kampung Halamanku"). Beberapa contoh rumah makan Sunda antara lain Lembur Kuring, Sari Kuring, Ponyo, Boboko, Mang Engking, Ma' Uneh, Sindang Reret, Dapur Sunda, Bumbu Desa, Laksana, dan Ampera.






MAKANAN-MAKANAN KHAS JAWA BARAT
Nasi timbel

merujuk kepada cara memasak dengan membungkus nasi panas di dalam daun pisang. Panas nasi menjadikan aroma daun pisang luruh dan menambah aroma nasi. Caranya hampir sama dengan membuat lontong; ditekan, dipadatkan, dan digulung dengan daun pisang; biasnya disajikan bersama beberapa pilihan lauk-pauk teman nasi seperti ayam, bebek, atau merpati goreng, empal gepuk, jambal roti, tahu, tempe, sayur asem, lalab dan sambal. Nasi timbel pada perkembangannya mengilhami resep nasi bakar.
Nasi Liwet Sunda
cara masak nasi dalam tungku dengan nasi dibumbui sereh dan laos serta daun salam. Untuk menambah rasa ada yang menambahkan ikan asin.[1]


Nasi Tutug Oncom

nasi yang dinanak dengan campuran oncom, bawang merah, dan kencur, biasanya disajikan dengan krupuk, sambal terasi, dan teri asin.
Karedok

sayuran mentah dengan bumbu kacang




Lotek


sayuran rebus dengan bumbu kacang
Sayur asem

sayur dengan citarasa asam jawa


.
Tumis Tauco

Tahu ditumis dengan tauco.
Aneka Pepes

pepes adalah cara memasak dengan membungkus bahan pangan di dalam daun pisang yang kemudian dimasak (dipanaskan), berbagai bahan pangan dapat dijadikan pepes, seperti ikan mas, teri, oncom, leunca, jamur, telur asin, tahu, dan lain-lain. Salah satu yang paling terkenal adalah Pais Lauk Emas (pepes ikan mas).




Bakakak hayam

ayam panggang ala Sunda
Empal Gepuk

daging sapi goreng bercitarasa manis





Soto Bandung

soto daging sapi dan lobak
Sate Maranggi

sate kambing atau domba khas Sunda dengan bumbu kecombrang


Empal Gentong

daging dan jeroan kambing dari Cirebon
Laksa Bogor

sejenis variasi laksa dari Bogor





Doclang ketupat

tahu dan telur rebus dengan siraman bumbu kacang dari Bogor
Kupat Tahu

ketupat, tahu, bihun, taoge, dengan bumbu kacang




Asinan

sayuran atau buah-buahan yang diawetkan dengan cara diasinkan atau diacar
Baso Tahu

mirip dimsum, tahu dan daging ikan kukus, sama dengan Siomay Bandung





Batagor Baso Tahu Goreng


Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Masakan_Sunda_Nasi timbel_Nasi LiwetSunda_Nasi Tutug Oncom
https://id.wikipedia.org/wiki/Masakan_Sunda_Karedok_Lotek_Tumis Tauco
https://id.wikipedia.org/wiki/Masakan_Sunda_Sayur asem_Aneka Pepes_Bakakak hayam
https://id.wikipedia.org/wiki/Masakan_Sunda_Bakakak hayam_Empal Gepuk_Soto Bandung
https://id.wikipedia.org/wiki/Masakan_Sunda_Sate Maranggi_Empal Gentong_Laksa Bogor
https://id.wikipedia.org/wiki/Masakan_Sunda_Doclang_ketupat_Kupat_ TahuAsinan
https://id.wikipedia.org/wiki/Masakan_Sunda_Baso Tahu_Batagor_Baso Tahu Goreng

Senin, 01 Februari 2016

contoh kasus-kasus yang akhirnya menjadi kebijakan publik

1. Kasus Prita Mulyasari


Kasus ini bermula ketika seorang ibu bernama Prita curhat melalui jejaring social facebook mengenai pelayanan Rumah Sakit Omni Internasional yang tidak memadai di Tengerang. Dia mengeluarkan unek-uneknya atau kejengkelannya terhadap pelayanan RS yang dianggapnya tidak professional.

Curhatan Prita diketahui oleh media, sehingga mereka mengekspos hal ini dalam penerbitan beritanya. Ada yang melalui surat kabar, internet dan TV yang nyata-nyatanya disaksikan oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Akibatnya hamper semua orang membicarakan kasus ini sepanjang waktu, kemudian muncul Pro dan Kontra terhadap Prita di masyarakat. Ada pihak yang mendukung Prita dan ada pihak yang tidak suka kepada Prita. Di pihak lain RS Omni Internasional menggugat Prita secara Perdata dan Pidana sehingga dia sempat dipenjara karena melakukan pencemaran nama baik.

Hal ini menjadi mengkhawatirkan di dalam masyarakat karena banyak yang berbeda argumen sehingga ditakutkan akan ada pihak-pihak yang memancing terjadinya keributan Pada akhirnya pemerintah mengagendakan kasus Prita sebagai kasus yang harus diselesaikan dengan segera, karena bisa mengganggu stabilitas nasional. Mulanya Pemerintah berusaha memfasilitasi mediasi antara Prita dengan pihak RS, namun tidak menemui jalan keluar. Sehingga kasus ini akhirnya diselesaikan di ranah hukum.

2. Kasus Darsem


Siapa rakyat Indonesia yang tidak tahu Darsem ? dia-lah seorang WNI yang bekerja sebagai TKW di Arab Saudi yang akan menjalani hukum pancung akibat membunuh majikannya sendiri.

Awalnya berita ini menjadi pembicaraan karena menyangkut nyawa sesorang, ditambah lagi dia akan dihukum mati di negara orang. Hampir seluruh media di tanah air memberitakan kasus ini. Dalam beberapa hari saja pemberitaan dan pembicaraan mengenai Darsem semakin banyak di dengar. Hal ini juga dikarenakan sebelumnya juga ada TKW Indonesia yang telah dipancung pemerintah Arab Saudi yaitu Sumiati. Penyebab dipancungnya Sumiati sama dengan Darsem yaitu membunuh majikan.

Muncul keprihatinan masyarakat Indonesia terhadap Darsem, sebagai salah satu pahlawan devisa negara dia banyak dibela oleh masyarakat, bahkan ada gerakan sejuta koin untuk Darsem yang dipelopori oleh masyarakat sebagai bentuk keprihatinan. Melihat bahwa kasus Darsem ini menjadi hot topic di masyarakat, apalagi ini menyangkut nyawa seorang WNI di luar negeri, maka pemerintah harus mengambil kebijakan. Setelah mengadakan perundingan, akhirnya Pemerintah melalui menteri luar negeri Martin Natalegawa dan juga Dubes RI di Arab Saudi menebus Darsem dengan sejumlah uang agar bebas dari hukuman pancung. Darsem akhirnya pulang ke tanah air.

3. Kasus Manohara


Tersebar issue mengenai penganiayaan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh sang pangeran Kelantan, Malaysia terhadap istrinya Manohara Odelia Pinot yang merupakan wanita asal Indonesia.

Munculnya kasus ini menjadi tranding topic dalam setiap pemberitaan media massa tanah air. Dikarenakan ini menyangkut kehormatan seorang istri yang merupakan perempuan asli Indonesia. Di samping itu, hal ini juga memunculkan kembali rivalitas yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia yang selama ini memang selalu berkonflik, terlebih lagi KDRT ini dilakukan oleh sang pangeran Kelantan terhadap istrinya seorang warga negara Indonesia.

Akibat pemberitaan ini, masyarakat menjadi simpati terhadap Manohara, apalagi mendengar langsung curhatan Ibunda Manohara di salah satu stasiun TV Nasional. Dalam curhatannya, ibunda Manohara sangat berharap kepada pemerintah agar bisa menyelesaikan kasus ini dan membawa Manohara kembali pulang ke tanah air. Mau tidak mau kasus ini menjadi urusan pemerintah karena ini menyangkut tugas negara yaitu memberikan perlindungan pada setiap warga negara yang ada di luar negeri. Pada akhirnya Pemerintah Indonesia dan Malaysia melakukan mediasi untuk penyelesaian kasus ini. Hasil mediasi memutuskan bahwa Manohara bisa pulang ke tanah air.

4. Kasus Nazaruddin


Kasus ini bermula ketika tertangkapnya Sesmenpora Wafid Muharam yang disuap oleh pengusaha pemenang tender pembangunan wisma atlet Palembang. Nama Nazaruddin pun terlibat karena berusaha menyuap Wafid melalui Mindo Rosalina Manulang agar tutup mulut. Namun kasus ini terus berlanjut dan ditangani oleh KPK

Sebagai seorang anggota Komisi III DPR RI, apalagi sebagai seorang bendahara partai penguasa saat ini, pemberitaan Nazaruddin sangat cepat. Seluruh media memberitakan hal ini sepanjang hari. Kemudian mereka juga menelusuri kebenaran kabar ini.

Namun belum sempat dimintai keterangan oleh penegak hukum, Nazaruddin sudah kabur ke luar negeri. Kaburnya Nazzaruddin membuat seluruh masyarakat mendesak dan menuntut pemerintah agar kasus ini dibongkar habis sampai ke akar-akarnya, karena masyarakat sudah bosan dengan oknum pejabat yang korup. Takut akan aksi demo dari mahasiswa yang menuntut kasus ini secepatnya diusut, Pemerintah akhipnya mengirimkan red noticekepada Interpol agar menangkap Nazaruddin. Pada akhirnya Pelarian Nazaruddin berakhir di Kolombia, dia ditangkap Interpol Kolombia di salah satu bandara. Mengetahui bahwa Nazaruddin tertangkap di Kolombia, pemerintah membentuk tim penjemput Nazaruddin yang terdiri dari bagian imigrasi, KPK, dan Polri. Hingga saat ini proses hukumnya masih berjalan

5. Kasus Sedot Pulsa


Kasus ini bermula ketika maraknya penipuan yang berkedok sms minta isikan pulsa, primbon, dan sms lain yang berkonsep melakukan registrasi. Awalnya masyarakat menganggap hal ini biasa saja karena hanya sedikit mulanya yang tertipu. Namun akhir-akhir ini hamper 30 % pengguna telepon seluler melaporkan bahwa pulsanya disedot oleh operator yang bersangkutan.

Kasus ini hampir dibicarakan oleh semua orang sepanjang hari. Hingga muncullah aksi demo-demo agar operator jaringan mengembalikan pulsa mereka yang telah disedot.

Melihat bahwa situasi semakin genting dan tidak kondusif kalau-kalau terjadi demo besar-besaran terhadap pemerintah, maka pemerintah melalui menteri komunikasi dan informasi Tifatul Sembiring mengambil kebijakan untuk menghentikan layanan sms premium seperti penawaran konten-konten broadcast, pop screen, dll dengan waktu yang ditentukan kemudian. Hal ini dilakukan agar kepercayaan masyarakat kembali tercipta

Benua Amerika,letak,karakteristik dan pembagian wilayahnya

BENUA AMERIKA
Benua Amerika merupakan salah satu dari lima benua yang ada di dunia. Benua Amerika adalah benua yang terletak strategis dikarenakan diapit oleh dua samudera. Bagaimanakah berbagai aspek keberadaan Benua Amerika ? Berikut penjelasannya.
A. Karakteristik Benua Amerika
Amerika merupakan sebuah benua di dunia yang merujuk kepada wilayah daratan yang berada di antara Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik. Benua Amerika secara geografis terletak pada 80oLU-56oLS dan 170oBB-36oBT. Benua Amerika memiliki luas kurang lebih 42.188.569 km2.
Benua Amerika mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :
a) Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Pasifik dan Selat Bering.
b) Sebelah Timur berbatasan dengan Samudera Atlantik.
c) Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Arktik (Laut Es Utara).
d) Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik.
Benua Amerika secara garis besar dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :
1) Amerika Utara
Merupakan daratan Benua Amerika yang terletak di belahan bumi bagian utara. Perbatasan dari Amerika Utara yakni di bagian utara berbatasan dengan Lautan Arktik, di sebelah selatan dengan Laut Karibia, serta di sebelah barat dengan Samudera Pasifik. Luas Amerika Utara sekitar 24.500.000 km2 dan terkadang dianggap sebagai benua tersendiri, karena terpisah oleh Amerika Selatan dan terdiri dari negara-negara yang lebih maju, yakni Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Perbatasan antara Amerika Utara dengan Amerika Selatan terletak di Panama.
2) Benua Amerika Selatan
Yaitu daratan Benua Amerika yang terletak di belahan bumi bagian selatan. Amerika Selatan terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik, sekaligus dilewati oleh garis khatulistiwa. Amerika Selatan memiliki luas sekitar 17.688.569 km2. Luas ini menjadikan daratan Amerika Selatan berada pada peringkat ke-4 setelah Asia, Afrika, dan Amerika Utara. Amerika Selatan terdiri dari barisan Pegunungan Andes dari utara hingga ke selatan, sedangkan bagian timur merupakan dataran rendah yang sebagian besar merupakan perpanjangan dari Sungai Amazon dengan hutan tropis lebat.
B. Kondisi Alam Benua Amerika
Iklim
Benua Amerika membentang dari Kutub Selatan sampai ke Kutub Utara, akibatnya semua jenis iklim dapat dijumpai di benua ini. Iklim tersebut adalah :
1) Iklim tropis basah, terdapat di sebagian besar Amerika Selatan bagian utara.
2) Iklim dingin, terdapat pada bagian paling utara Amerika Utara.
3) Iklim kering atau gurun, terdapat di beberapa tempat yaitu :
• Chili bagian utara yang terletak di Gurun Atacama dan Peru.
• Campos, yaitu sabana yang berada di Tanah Tinggi Brazil.
• Pampas, yaitu stepa yang berada di daerah selatan Argentina.
• Ilonos, yaitu sabana di Sungai Orinoco.
4) Iklim subtropis, terdapat di sebagian Amerika Selatan.
5) Iklim stepa, terdapat di timur pegunungan batu (Rocky Mountains) sampai ke Kanada serta Dataran Tinggi Brazil.
6) Iklim darat, terdapat di Amerika Serikat bagian timur sampai perbatasan Kanada.
C. Bentang Alam Benua Amerika
Amerika Utara
Kondisi Geologis
Ditinjau dari struktur geologisnya, Amerika Utara terdiri dari batu-batuan prekambium pada perisai Kanada dan perisai Laurent. Sebagian besar perisai itu terdiri atas batu-batuan metamorf yang membujur ke selatan dan ke barat di bawah prairie atau padang rumput yang luas.
Pegunungan
Di daerah Kanada dan pedalaman Amerika Serikat, terdapat dua zona pegunungan besar, yaitu Pegunungan Apalachia di sebelah timur dan Pegunungan Cordillera di bagian barat. Di daerah pegunungan Rocky Mountain terdapat lembah kering yang disebut Great Basin. Di kawasan ini banyak ditemukan danau garam, contohnya adalah The Great Salt Lake (Danau Garam Besar). Di daerah ini juga terdapat ngarai, yakni Grand Canyon.
Amerika Selatan
Gurun dan Dataran
Terdapat gurun pasir di Amerika Selatan, yaitu mulai dari Chili Utara sampai di pantai selatan Teluk Guayaquil melintasi Peru yang dinamakan ‘Gurun Pasir Pasifik’. Dataran rendah terdapat di antara pegunungan Andes sebelah barat dengan dataran tinggi Guyana. Sementara dataran tinggi di Amerika Selatan yaitu Dataran Tinggi Patagonia, Dataran Tinggi Guyana, dan Dataran Tinggi Brazilia yang terdapat di sebelah timur Pegunungan Andes.
D. Kependudukan dan Perekonomian Benua Amerika
Penduduk Amerika terdiri atas dua golongan, yaitu :
1) Penduduk Asli, yaitu bangsa Eskimo dan Indian yang termasuk rumpun bangsa Mongol.
2) Penduduk Pendatang (Imigran), terdiri dari 4 golongan besar yaitu :
• Orang-orang Mongol (berkulit kuning).
• Orang-orang Negro (berkulit Hitam).
• Orang-orang berkulit Putih.
• Orang-orang Mesir.
Beberapa bahasa yang digunakan oleh penduduk benua Amerika yaitu :
1. Bahasa Inggris, digunakan oleh Amerika Serikat, Bahama, Barbados, Kanada, Guyana, St. Lucia, St.Christhoper, dan Jamaika.
2. Bahasa Spanyol, digunakan oleh Argentina, Chili, Kolombia, Kosta Rica, Kuba, Dominika, Ekuador, El Savador, Venezuela, Peru, Panama, Nikaragua, dan Meksiko.
3. Bahasa Portugal, digunakan oleh Brasil.
4. Bahasa Belanda, digunakan oleh Suriname.
Kawasan Amerika Utara merupakan kawasan yang sudah maju dan mengembangkan industri secara progresif. Ini tampak pada kuatnya perekonomian Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sedangkan Amerika Selatan lebih bergantung pada hasil alam (pertanian/peternakan/tambang), misalnya, Brazil dengan komoditas kopi serta Kanada dengan gandum dan daging sapi.



Pembagian wilayah/negara di benua Amerika

Amerika Selatan

• Argentina-Buenos Aires
• Bolivia-Sucre
• Brasil-Brazilia
• Cile-Santiago
• Ekuador-Quito
• Guyana-George Town
• Guyana Prancis-Cayenne
• Paraguay-Assuncion
• Peru-Lima
• Suriname-Paramaribo
• Uruguay-Montevidio
• Venezuela-Caracas

Amerika Utara

• Amerika Serikat-Washington DC
• Kanada-Ottawa

Amerika Tengah

• Belize-Belmopan
• Dominika-Rosseau
• El Savador-San Salvador
• Kepulauan Grenada-St. George’s
• Guatemala-Guatemala
• Haiti-Port-au-Prince
• Honduras-Tegucigalpa
• Kep. Bahama
• Kosta Rika-San Jose
• Kuba-Havana
• Meksiko
• Nikaragua-Managua
• Panama-Panama
• Puerto Rico-San Juan
• Rep. Dominika-Santo Domingo
• Saint Lucia-Castries
• St. Vincent & Grenadines-Kingstown
• Trinidad and Tobago-Port of Spain

Minggu, 13 Desember 2015

Makalah tentang Kebakaran Hutan Beserta Contohnya

Makalah Kebakaran Hutan
BAB I PENDAHULUAN 
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu Negara tropis yang memiliki wilayah hutan terluas di dunia setelah Brazil dan Zaire. Hal ini merupakan suatu kebanggaan bagi bangsa Indonesia, karena dilihat dari manfaatnya sebagai paru-paru dunia, pengatur aliran air, pencegah erosi dan banjir serta dapat menjaga kesuburan tanah. Selain itu, hutan dapat memberikan manfaat ekonomis sebagai penyumbang devisa bagi kelangsungan pembangunan di Indonesia. Karena itu pemanfaatan hutan dan perlindungannya telah diatur dalam UUD 45, UU No. 5 tahun 1990, UU No 23 tahun 1997, UU No. 41 tahun 1999, PP No 28 tahun 1985 dan beberapa keputusan Menteri Kehutanan serta beberapa keputusan Dirjen PHPA dan Dirjen Pengusahaan Hutan. Hutan yang seharusnya dijaga dan dimanfaatkan secara optimal dengan memperhatikan aspek kelestarian kini telah mengalami degradasi dan deforestasi yang cukup mencenangkan bagi dunia Internasional, faktanya Indonesia mendapatkan rekor dunia guiness yang dirilis oleh Greenpeace sebagai negara yang mempunyai tingkat laju deforestasi tahunan tercepat di dunia, Sebanyak 72 persen dari hutan asli Indonesia telah musnah dengan 1.8 juta hektar hutan dirusakan per tahun antara tahun 2000 hingga 2005, sebuah tingkat kerusakan hutan sebesar 2% setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan pengelolaan dan pemanfaatan hutan selama ini tidak memperhatikan manfaat yang akan diperoleh dari keberadaan hutan tersebut, sehingga kelestarian lingkungan hidup menjadi terganggu. Penyebab utama kerusakan hutan adalah kebakaran hutan. Kebakaran hutan terjadi karena manusia yang menggunakan api dalam upaya pembukaan hutan untuk Hutan Tanaman Industri (HTI), perkebunan, dan pertanian. selain itu, kebakaran didukung oleh pemanasan global, kemarau ekstrim yang seringkali dikaitkan dengan pengaruh iklim memberikan kondisi ideal untuk terjadinya kebakaran hutan. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Pengertian dan manfaat hutan di Indonesia 1.2.2 Kerusakan hutan dan penyebabnya yang terjadi di Indonesia 1.2.3 Kebakaran hutan dan jenis-jenisnya 1.2.4 Penyebab dan dampak kebakaran hutan 1.2.5 Pencegahan dan penaggulangan kebakaran hutan 1.2.6 Beberapa kasus kebakaran hutan 1.3 Tujuan 1.3.1 Mengetahui pengertian dan manfaat hutan di Indonesia 1.3.2 Mengetahui kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia dan penyebabnya 1.3.3 Mengetahui pengertian dan jenis-jenis kebakaran hutan 1.3.4 Mengetahui penyebab dan dampak kebakaran hutan 1.3.5 Mengetahui cara pencegahan dan penaggulangan kebakaran hutan 1.3.6 Mengetahui beberapa kasus kebakaan hutan
 BAB II PEMBAHASAN 
2.1 Pengertian Hutan
  Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan (Undang undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan). Sedangkan menurut Ensiklopedia Indonesia, hutan adalah suatu areal yang dikelola untuk produksi kayu dan hasil hutan lainnya dipelihara bagi keuntungan tidak langsung atau dapat pula bahwa hutan sekumpulan tumbuhan yang tumbuh bersama. Pemanfaatan sekaligus perlindungan hutan di Indonesia diatur dalam UUD 45, UU No. 5 tahun 1990, UU No 23 tahun 1997, UU No. 41 tahun 1999, PP No 28 tahun 1985 dan beberapa keputusan Menteri Kehutanan serta beberapa keputusan Dirjen PHPA dan Dirjen Pengusahaan Hutan. Menurut beberapa peraturan tersebut,hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak ternilai karena didalamnya terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah, sumber hasil hutan kayu dan non-kayu, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah, perlindungan alam hayati untuk kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, rekreasi, pariwisata dan sebagainya.
 2.2 Hutan di Indonesia
  Luas hutan di Indonesia berkisar 122 juta hektar, yang persebarannya di Pulau Jawa hanya sekitar 3 juta Ha, terdiri atas 55% hutan produksi dan 45% hutan lindung. Persebaran hutan di Indonesia kebanyakan berjenis hutan hujan tropis yang luasnnya mencapai 89 juta hektar. Daerah-daerah hutan hujan tropis antara lain terdapat di pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Irian. Hutan hujan tropis anggotanya tidak pernah menggugurkan daun, liananya berkayu, pohon-pohonnya lurus dapat mencapai rata-rata 30 meter.
2.3 Manfaat Hutan di Indonesia
2.3.1 Kekayaan Keanekaragaman Hayati yang Tinggi sebagai Paru-paru Dunia Jamur dan bakteri tersebut dapat membantu proses pembusukan pada hewan dan tumbuhan secara cepat. Dengan demikian hutan hujan tropika tidak saja ditandai dengan pertumbuhan yang baik tetapi juga tempat pembusukan yang baik. Keanekaragaman hayati ditandai dengan kekayaan spesies yang dapat mencapai sampai hampir 1.400 spesies, Brasil tercatat mempunyai 1.383 spesies. Di daerah tropika tumbuhan berkayu mempunyai dominasi yang lebih besar daripada daerah lainnya.
2.3.2 Hutan Sebagai Pengatur Aliran Air Penguapan air ke udara hingga terjadi kondensasi di atas tanah yang berhutan antara lain disebabkan oleh adanya air hujan, dengan ditahannya (intersepsi) air hujan tersbut oleh tajuk pohon yang terdiri dari lapisan daun, dan diuapkan kembali ke udara. Sebagian lagi menembus lapisan tajuk dan menetes serta mengalir melalui batang ke atas permukaan serasah di hutan.
 2.3.3 Pencegah Erosi dan Banjir Erosi dan banjir adalah akibat langsung dari pembukaan dan pengolahan tanah terutama di daerah yang mempunyai kemiringan permukaan bumi atau disebut juga kontur yang curam. Keduanya dapat bersumber dari kawasan hutan maupun dari luar kawasan hutan, misalnya perkebunan, tegalan, dan kebun milik rakyat.
2.3.4 Menjaga Kesuburan Tanah Kesuburan tanah sebagian besar dalam bentuk mineral, seperti unsur-unsur Ca, K, N, P, dan lainnya, disimpan pada bagian dari vegetasi yang ada di atas tanah, misalnya pada batang, dahan, ranting, daun, bunga, buah, dan lain-lain. Dengan demikian dengan adanya kerapatan hutan pada hutan tropika dapat menjaga kesuburan tanah.
2.4 Kerusakan Hutan di Indonesia
  Kerusakan hutan (deforestasi) masih tetap menjadi ancaman di Indonesia. Menurut data laju deforestasi (kerusakan hutan) periode 2003-2006 yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan, laju deforestasi di Indonesia mencapai 1,17 juta hektar pertahun.Bahkan jika melihat data yang dikeluarkan oleh State of the World’s Forests 2007 yang dikeluarkan The UN Food & Agriculture Organization (FAO), angka deforestasi Indonesia pada periode 2000-2005 1,8 juta hektar/tahun. Laju deforestasi hutan di Indonesia ini membuat Guiness Book of The Record memberikan ‘gelar kehormatan’ bagi Indonesia sebagai negara dengan daya rusak hutan tercepat di dunia. Dari total luas hutan di Indonesia yang mencapai 180 juta hektar, menurut Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan (Menteri Kehutanan sebelumnya menyebutkan angka 135 juta hektar) sebanyak 21 persen atau setara dengan 26 juta hektar telah dijarah total sehingga tidak memiliki tegakan pohon lagi. Artinya, 26 juta hektar hutan di Indonesia telah musnah. Selain itu, 25 persen lainnya atau setara dengan 48 juta hektar juga mengalami deforestasi dan dalam kondisi rusak akibat bekas area HPH (Hak Penguasaan Hutan). Dari total luas hutan di Indonesia hanya sekitar 23 persen atau setara dengan 43 juta hektar saja yang masih terbebas dari deforestasi (kerusakan hutan) sehingga masih terjaga dan berupa hutan primer. Laju deforestasi hutan di Indonesia paling besar disumbang oleh kegiatan industri, terutama industri kayu, yang telah menyalahgunakan HPH yang diberikan sehingga mengarah pada pembalakan liar. Penebangan hutan di Indonesia mencapai 40 juta meter kubik per tahun, sedangkan laju penebangan yang sustainable (lestari berkelanjutan) sebagaimana direkomendasikan oleh Departemen Kehutanan menurut World Bank adalah 22 juta meter kubik meter per tahun. Penyebab deforestasi terbesar kedua di Indonesia, disumbang oleh pengalihan fungsi hutan (konversi hutan) menjadi perkebunan. Konversi hutan menjadi area perkebunan (seperti kelapa sawit), telah merusak lebih dari 7 juta ha hutan sampai akhir 1997. Deforestasi (kerusakan hutan) memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat dan lingkungan alam di Indonesia. Kegiatan penebangan yang mengesampingkan konversi hutan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan yang pada akhirnya meningkatkan peristiwa bencana alam, seperti tanah longsor dan banjir. Dampak buruk lain akibat kerusakan hutan adalah terancamnya kelestarian satwa dan flora di Indonesia utamanya flora dan fauna endemik. Satwa-satwa endemik yang semakin terancam kepunahan akibat deforestasi hutan misalnya lutung jawa (Trachypithecus auratus), dan merak (Pavo muticus), owa jawa (Hylobates moloch), macan tutul (Panthera pardus), elang jawa (Spizaetus bartelsi), merpati hutan perak (Columba argentina), dan gajah sumatera (Elephant maximus sumatranus).
 2.5 Kebakaran Hutan
 
Kebakaran hutan merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan yang memiliki dampak negatif. Kebakaran hutan, kebakaran vegetasi, atau kebakaran semak, adalah sebuah kebakaran yang terjadi di alam liar, tetapi juga dapat memusnahkan rumah-rumah dan lahan pertanian disekitarnya. Selain itu, kebakaran hutan dapat didefinisikan sebagai pembakaran yang tidak tertahan dan menyebar secara bebas dan mengonsumsi bahan bakar yang tersedia di hutan,antara lain terdiri dari serasah, rumput, cabang kayu yang sudah mati, dan lain-lain. Istilah Kebakaran hutan di dalam Ensiklopedia Kehutanan Indonesia disebut juga Api Hutan. Selanjutnya dijelaskan bahwa Kebakaran Hutan atau Api Hutan adalah Api Liar yang terjadi di dalam hutan, yang membakar sebagian atau seluruh komponen hutan. Dikenal ada 3 macam kebakaran hutan, Jenis-jenis kebakaran hutan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Api Permukaan atau Kebakaran Permukaan yaitu kebakaran yang terjadi pada lantai hutan dan membakar seresah, kayu-kayu kering dan tanaman bawah. Sifat api permukaan cepat merambat, nyalanya besar dan panas, namun cepat padam. Dalam kenyataannya semua tipe kebakaran berasal dari api permukaan.
2. Api Tajuk atau Kebakaran Tajuk yaitu kebakaran yang membakar seluruh tajuk tanaman pokok terutama pada jenis-jenis hutan yang daunnya mudah terbakar. Apabila tajuk hutan cukup rapat, maka api yang terjadi cepat merambat dari satu tajuk ke tajuk yang lain. Hal ini tidak terjadi apabila tajuk-tajuk pohon penyusun tidak saling bersentuhan.
3. Api Tanah adalah api yang membakar lapisan organik yang dibawah lantai hutan. Oleh karena sedikit udara dan bahan organik ini, kebakaran yang terjadi tidak ditandai dengan adanya nyala api. Penyebaran api juga sangat lambat, bahan api tertahan dalam waktu yang lama pada suatu tempat.
2.6 Kebakaran dan Pembakaran
Kebakaran dan pembakaran merupakan sebuah kata dengan kata dasar yang sama tetapi mempunyai makna yang berbeda. Kebakaran indentik dengan kejadian yang tidak disengaja sedangkan pembakaran identik dengan kejadian yang sengaja diinginkan tetapi tindakan pembakaran dapat juga menimbulkan terjadinya suatu kebakaran. Penggunaan istilah kebakaran hutan dengan pembakaran terkendali merupakan suatu istilah yang berbeda. Penggunaan istilah ini sering kali mengakibatkan timbulnya persepsi yang salah terhadap dampak yang ditimbulkannya. Kebakaran-kebakaran yang sering terjadi digeneralisasi sebagai kebakaran hutan, padahal sebagian besar (99,9%) kebakaran tersebut adalah pembakaran yang sengaja dilakukan maupun akibat kelalaian, baik oleh peladang berpindah ataupun oleh pelaku binis kehutanan atau perkebunan, sedangkan sisanya (0,1%) adalah karena alam (petir, larva gunung berapi). Saharjo (1999) menyatakan bahwa baik di areal HTI, hutan alam dan perladangan berpindah dapat dikatakan bahwa 99% penyebab kebakaran hutan di Indonesia adalah berasal dari ulah manusia, entah itu sengaja dibakar atau karena api lompat yang terjadi akibat kelalaian pada saat penyiapan lahan. Bahan bakar dan api merupakan faktor penting untuk mempersiapkan lahan pertanian dan perkebunan (Saharjo, 1999). Pembakaran selain dianggap mudah dan murah juga menghasilkan bahan mineral yang siap diserap oleh tumbuhan. Banyaknya jumlah bahan bakar yang dibakar di atas lahan akhirnya akan menyebabkan asap tebal dan kerusakan lingkungan yang luas. Untuk itu, agar dampak lingkungan yang ditimbulkannya kecil, maka penggunaan api dan bahan bakar pada penyiapan lahan haruslah diatur secara cermat dan hati-hati. Untuk menyelesaikan masalah ini maka manajemen penanggulangan bahaya kebakaran harus berdasarkan hasil penelitian dan tidak lagi hanya mengandalkan dari terjemahan textbook atau pengalaman dari negara lain tanpa menyesuaikan dengan keadaan lahan di Indonesia (Saharjo, 2000).
2.7 Penyebab Kebakaran Hutan Kebakaran hutan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain sebagai berikut:
1. Sambaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau yang panjang.
2. Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok sembarangan dan lupa mematikan api di perkemahan.
3. Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari letusan gunung berapi.
4. Tindakan yang disengaja seperti untuk membersihkan lahan pertanian atau membuka lahan pertanian baru dan tindakan vandalisme.
5. Kebakaran di bawah tanah/ground fire pada daerah tanah gambut yang dapat menyulut kebakaran di atas tanah pada saat musim kemarau.
2.8 Kerugian yang ditimbulkannya
Kebakaran hutan akhir-akhir ini menjadi perhatian internasional sebagai isu lingkungan dan ekonomi khususnya setelah terjadi kebakaran besar di berbagai belahan dunia tahun 1997/98 yang menghanguskan lahan seluas 25 juta hektar. Kebakaran tahun 1997/98 mengakibatkan degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya ekonomi sekitar US $ 1,6-2,7 milyar dan biaya akibat pencemaran kabut sekitar US $ 674-799 juta. Kerugian yang diderita akibat kebakaran hutantersebut kemungkinan jauh lebih besar lagi karena perkiraan dampak ekonomi bagikegiatan bisnis di Indonesia tidak tersedia. Valuasi biaya yang terkait dengan emisi karbon kemungkinan mencapai US $ 2,8 milyar (Tacconi, 2003). Hasil perhitungan ulang kerugian ekonomi yang dihimpun Tacconi (2003), menunjukkan bahwa kebakaran hutan Indonesia telah menelan kerugian antara US $ 2,84 milayar sampai US $ 4,86 milyar yang meliputi kerugian yang dinilai dengan uang dan kerugian yang tidak dinilai dengan uang. Kerugian tersebut mencakup kerusakan yang terkait dengan kebakaran seperti kayu, kematian pohon, HTI, kebun, bangunan, biaya pengendalian dan sebagainya serta biaya yang terkait dengan kabut asap seperti kesehatan, pariwisata dan transportasi.
2.9 Dampak Kebakaran Hutan
2.9.1 Dampak Kebakaran Hutan terhadap Lingkungan Biologis Yang dimaksud dengan lingkungan biologi yaitu segala sesuatu di sekitar manusia yang berupa organisme hidup selain dari manusia itu sendiri seperti hewan, tumbuhan, dan decomposer. Dampak yang ditimbulkan dari adanya kebakaran hutan khususnya terhadap lingkungan biologis antara lain sebagai berikut:
1. Terhadap flora dan fauna Kebakaran hutan akan memusnahkan sebagian spesies dan merusak kesimbangan alam sehingga spesies-spesies yang berpotensi menjadi hama tidak terkontrol. Selain itu, terbakarnya hutan akan membuat Hilangnya sejumlah spesies; selain membakar aneka flora, kebakaran hutan juga mengancam kelangsungan hidup sejumlah binatang. Berbagai spesies endemik (tumbuhan maupun hewan) terancam punah akibat kebakaran hutan. Selain itu, kebakaran hutan dapat mengakibatkan terbunuhnya satwa liar dan musnahnya tanaman baik karena kebakaran, terjebak asap atau rusaknya habitat. Kebakaran juga dapat menyebabkan banyak spesies endemik/khas di suatu daerah turut punah sebelum sempat dikenali/diteliti. Beberapa dampak kebakaran tehadap hewan dan tumbuhan antara lain sebagai berikut:
 – BANGSA BINATANG 
Kebakaran hutan akan mengakibatkan banyak binatang yang akan kehilangan tempat tinggal yang digunakan untuk berlindung serta tempat untuk mencarimakan. Dengan demikian, hewan yang tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru setelah terjadinya kebakaran tersebut akan mengalami penurunan jumlah bahkan dapat mengalami kepunahan. Contoh dampak kebakaran hutan bagi beberapa hewan antara lain sebagai berikut:
• Geobin : seluruh daur hidupnya di dalam tubuh tanah (Ciliophora, Rhizopoda & Mastigophora, dll)
• Geofil : sebagian daur hidupnya di dalam tubuh tanah (serangga) – BANGSA TUMBUHAN Kehidupan tumbuhan berhubungan erat dengan hutan yang merupakan tempat hidupnya. Kebakaran hutan dapat mengakibatkan berkurangnya vegetasi tertentu. Contoh dampak kebakaran hutan terhadap tumbuhan adalah sebagai berikut:
 • Tumbuhan tingkat tinggi (akar pohon, semak atau rumput)
 • Tumbuhan tingkat rendah (bakteri, cendawan dan Ganggang) Terjadinya kebakaran hutan akan menghilangkan vegetasi di atas tanah, sehingga apabila terjadi hujan maka hujan akan langsung mengenai permukaan atas tanah, sehingga mendapatkan energi pukulan hujan lebih besar, karena tidak lagi tertahan oleh vegetasi penutup tanah. Kondisi ini akan menyebabkan rusaknya struktur tanah
2. Terhadap keanekaragaman hayati Kebakaran hutan membawa dampak yang besar pada keanekaragaman hayati. Hutan yang terbakar berat akan sulit dipulihkan, karena struktur tanahnya mengalami kerusakan. Hilangnya tumbuh-tumbuhan menyebabkan lahan terbuka, sehingga mudah tererosi, dan tidak dapat lagi menahan banjir. Karena itu setelah hutan terbakar, sering muncul bencana banjir pada musim hujan di berbagai daerah yang hutannya terbakar. Kerugian akibat banjir tersebut juga sulit diperhitungkan.
3. Terhadap mikroorganisme Kebakaran hutan dapat membunuh organisme (makroorganisme dan mikroorganisme) tanah yang bermanfaat dalam meningkatkan kesuburan tanah. Makroorganisme tanah misalnya: cacing tanah yang dapat meningkatkan aerasi dan drainase tanah, dan mikroorganisme tanah misalnya: mikorisa yang dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara P, Zn, Cu, Ca, Mg, dan Fe akan terbunuh. Selain itu, bakteri penambat (fiksasi) nitrogen pada bintil-bintil akar tumbuhan Leguminosae juga akan mati sehingga laju fiksasi ntrogen akan menurun. Mikroorganisme, seperti bakteri dekomposer yang ada pada lapisan serasah saat kebakaran pasti akan mati. Dengan temperatur yang melebihi normal akan membuat mikroorganisma mati, karena sebagian besar mikroorganisma tanah memiliki adaptasi suhu yang sempit. Namun demikian, apabila mikroorganisme tanah tersebut mampu bertahan hidup, maka ancaman berikutnya adalah terjadinya perubahan iklim mikro yang juga dapat membunuhnya. Dengan terbunuhnya mikroorganisme tanah dan dekomposer seperti telah dijelaskan di atas, maka akan mengakibatkan proses humifikasi dan dekomposisi menjadi terhenti.
3. Terhadap organisme dalam tanah Kebakaran hutan biasanya menimbulkan dampak langsung terhadap kematian populasi dan organisme tanah serta dampak yang lebih signifikan lagi yaitu merusak habitat dari organisme itu sendiri. Perubahan suhu tanah dan hilangnya lapisan serasah, juga bisa menyebabkan perubahan terhadap karakteristik habitat dan iklim mikro. Kebakaran hutan menyebabkan bahan makanan untuk organisme menjadi sedikit, kebanyakan organisme tanah mudah mati oleh api dan hal itu dengan segera menyebabkan perubahan dalam habitat, hal ini kemungkinan menyebabkan penurunan jumlah mikroorganisme yang sangat besar dalam habitat. Efek negatif ini biasanya bersifat sementara dan populasi organisme tanah akhirnya kembali menjadi banyak lagi dalam beberapa tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisika, kimia dan biologi tanah pada hutan dan hutan yang sudah dibuka pada daerah Buffer Zone dan Resort Sei Betung pada Taman Nasional Gunung Leuser Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Yang dimulai pada bulan April hingga Mei 2011. Penelitian ini mengambil 12 titik sampel tanah sebagai bahan penelitian, yaitu 6 sampel pada hutan asli dan 6 sampel pada hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian. Metode yang digunakan adalah Survei Bebas tingkat survei semi detail dan analisis data kandungan bahan organik tanah dengan metode Walkley and Black, hara Nitrogen total tanah dengan metode Kjeldhalterm, Tekstur tanah dengan metode Hidrometer, pH tanah dengan metode Elektrometri, Kapasitas Tukar Kation (KTK) dengan metode Ekstraksi NH4OAc pH 7 serta nisbah C/N tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan bahan organik digolongkan dalam 4 kriteria, yakni sangat rendah dan rendah (pada tanah hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan), sedang dan tinggi (pada tanah hutan alami). N-total tanah digolongkan dalam 3 kriteria, yakni rendah (pada tanah hutan alami), sedang dan tinggi (pada tanah hutan alami dan hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan). Rasio C/N tanah digolongkan dalam 4 kriteria, yakni sangat rendah (pada tanah hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan), rendah, sedang dan tinggi (pada tanah hutan alami). pH tanah digolongkan dalam 3 kriteria, yakni sangat masam, masam dan agak masam. Tekstur tanah lebih dominan lempung berpasir. Kapasitas Tukar Kation tanah digolongkan dalam 1 kriteria, yakni rendah (pada tanah hutan alami dan hutan yang sudah dibuka untuk lahan pertanian tanaman musiman dan tahunan)
2.9.2 Menteri Kesehatan RI, 2003 menyatakan bahwa kebakaran hutan menimbulkan polutan udara yang dapat menyebabkan penyakit dan membahayakan kesehatan manusia. Berbagai pencemar udara yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan, misalnya : debu dengan ukuran partikel kecil (PM10 & PM2,5), gas SOx, NOx, COx, dan lain-lain dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia, antara lain infeksi saluran pernafasan, sesak nafas, iritasi kulit, iritasi mata, dan lain-lain. Selain itu juga dapat menimbulkan gangguan jarak pandang/ penglihatan, sehingga dapat menganggu semua bentuk kegiatan di luar rumah. Gumpalan asap yang pedas akibat kebakaran yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998 meliputi wilayah Sumatra dan Kalimantan, juga Singapura dan sebagian dari Malaysia dan Thailand. Sekitar 75 juta orang terkena gangguan kesehatan yang disebabkan oleh asap. (Cifor,2001). Gambut yang terbakar di Indonesia melepas karbon lebih banyak ke atmosfir daripada yang dilepaskan Amerika Serikat dalam satu tahun. Hal itu membuat Indonesia menjadi salah satu pencemar lingkungan terburuk di dunia pada periode tersebut (Applegate, G. dalam CIFOR, 2001). Dampak kebakaran hutan 1997/98 bagi ekosistem direvisi karena perubahan perhitungan luas kebakaran yang ditemukan. Taconi, 2003 menyebutkan bahwa kebakaran yang mengakibatkan degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya ekonomi sekitar 1,62-2,7 miliar dolar. Biaya akibat pencemaran kabut asap sekitar 674-799 juta dolar; biaya ini kemungkinan lebih tinggi karena perkiraan dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di Indonesia tidak tersedia. Valuasi biaya yang terkait dengan emisi karbon menunjukkan bahwa kemungkinan biayanyamencapai2,8 miliar dolar.
2.10 Pencegahan Kebakaran Hutan di Indonesia
Upaya untuk menangani kebakaran hutan ada dua macam, yaitu penanganan yang bersifat represif dan penanganan yang bersifat preventif. Penanganan kebakaran hutan yang bersifat represif adalah upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi kebakaran hutan setelah kebakaran hutan itu terjadi. Penanganan jenis ini, contohnya adalah pemadaman, proses peradilan bagi pihak-pihak yang diduga terkait dengan kebakaran hutan (secara sengaja), dan lain-lain. Sementara itu, penanganan yang bersifat preventif adalah setiap usaha, tindakan atau kegiatan yang dilakukan dalam rangka menghindarkan atau mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan. Jadi penanganan yang bersifat preventif ini ada dan dilaksanakan sebelum kebakaran terjadi. Selama ini, penanganan yang dilakukan pemerintah dalam kasus kebakaran hutan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, lebih banyak didominasi oleh penanganan yang sifatnya represif. Berdasarkan data yang ada, penanganan yang sifatnya represif ini tidak efektif dalam mengatasi kebakaran hutan di Indonesia. Hal ini terbukti dari pembakaran hutan yang terjadi secara terus menerus. Sebagai contoh : pada bulan Juli 1997 terjadi kasus kebakaran hutan. Upaya pemadaman sudah dijalankan, namun karena banyaknya kendala, penanganan menjadi lambat dan efek yang muncul (seperti : kabut asap) sudah sampai ke Singapura dan Malaysia. Sejumlah pihak didakwa sebagai pelaku telah diproses, meskipun hukuman yang dijatuhkan tidak membuat mereka jera. Ketidakefektifan penanganan ini juga terlihat dari masih terus terjadinya kebakaran di hutan Indonesia, bahkan pada tahun 2008 ini. Oleh karena itu, berbagai ketidakefektifan perlu dikaji ulang sehingga bisa menghasilkan upaya pengendalian kebakaran hutan yang efektif. Menurut UU No 45 Tahun 2004, pencegahan kebakaran hutan perlu dilakukan secara terpadu dari tingkat pusat, provinsi, daerah, sampai unit kesatuan pengelolaan hutan. Ada kesamaan bentuk pencegahan yang dilakukan diberbagai tingkat itu, yaitu penanggungjawab di setiap tingkat harus mengupayakan terbentuknya fungsi-fungsi berikut ini :
1. Mapping : pembuatan peta kerawanan hutan di wilayah teritorialnya masing-masing. Fungsi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, namun yang lazim digunakan adalah 3 cara berikut:
• pemetaan daerah rawan yang dibuat berdasarkan hasil olah data dari masa lalu maupun hasil prediksi.
• pemetaan daerah rawan yang dibuat seiring dengan adanya survai desa (Partisipatory Rural Appraisal)
• pemetaan daerah rawan dengan menggunakan Global Positioning System atau citra satelit
 2. Informasi : penyediaan sistem informasi kebakaran hutan. Hal ini bisa dilakukan dengan pembuatan sistem deteksi dini (early warning system) di setiap tingkat. Deteksi dini dapat dilaksanakan dengan 2 cara berikut : o analisis kondisi ekologis, sosial, dan ekonomi suatu wilayah
o pengolahan data hasil pengintaian petugas
3. Sosialisasi : pengadaan penyuluhan, pembinaan dan pelatihan kepada masyarakat. Penyuluhan dimaksudkan agar menginformasikan kepada masyarakat di setiap wilayah mengenai bahaya dan dampak, serta peran aktivitas manusia yang seringkali memicu dan menyebabkan kebakaran hutan. Penyuluhan juga bisa menginformasikan kepada masayarakat mengenai daerah mana saja yang rawan terhadap kebakaran dan upaya pencegahannya. Pembinaan merupakan kegiatan yang mengajak masyarakat untuk dapat meminimalkan intensitas terjadinya kebakaran hutan. Sementara, pelatihan bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar wilayah rawan kebakaran hutan,untuk melakukan tindakan awal dalam merespon kebakaran hutan.
4. Standardisasi : pembuatan dan penggunaan SOP (Standard Operating Procedure). Untuk memudahkan tercapainya pelaksanaan program pencegahan kebakaran hutan maupun efektivitas dalam penanganan kebakaran hutan, diperlukan standar yang baku dalam berbagai hal berikut :
• Metode pelaporan Untuk menjamin adanya konsistensi dan keberlanjutan data yang masuk, khususnya data yang berkaitan dengan kebakaran hutan, harus diterapkan sistem pelaporan yang sederhana dan mudah dimengerti masyarakat. Ketika data yang masuk sudah lancar, diperlukan analisis yang tepat sehingga bisa dijadikan sebuah dasar untuk kebijakan yang tepat.
• Peralatan Standar minimal peralatan yang harus dimiliki oleh setiap daerah harus bisa diterapkan oleh pemerintah, meskipun standar ini bisa disesuaikan kembali sehubungan dengan potensi terjadinya kebakaran hutan, fasilitas pendukung, dan sumber daya manusia yang tersedia di daerah.
• Metode Pelatihan untuk Penanganan Kebakaran Hutan Standardisasi ini perlu dilakukan untuk membentuk petugas penanganan kebakaran yang efisien dan efektif dalam mencegah maupun menangani kebakaran hutan yang terjadi. Adanya standardisasi ini akan memudahkan petugas penanganan kebakaran untuk segera mengambil inisiatif yang tepat dan jelas ketika terjadi kasus kebakaran hutan 5.
Supervisi : pemantauan dan pengawasan kepada pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan hutan. Pemantauan adalah kegiatan untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya perusakan lingkungan, sedangkan pengawasan adalah tindak lanjut dari hasil analisis pemantauan. Jadi, pemantauan berkaitan langsung dengan penyediaan data,kemudian pengawasan merupakan respon dari hasil olah data tersebut. Pemantauan, menurut kementerian lingkungan hidup, dibagi menjadi empat, yaitu :
 • Pemantauan terbuka : Pemantauan dengan cara mengamati langsung objek yang diamati. Contoh : patroli hutan
 • Pemantauan tertutup (intelejen) : Pemantauan yang dilakukan dengan cara penyelidikan yang hanya diketahui oleh aparat tertentu.
 • Pemantauan pasif : Pemantauan yang dilakukan berdasarkan dokumen, laporan, dan keterangan dari data-data sekunder, termasuk laporan pemantauan tertutup.
 • Pemantauan aktif : Pemantauan dengan cara memeriksa langsung dan menghimpun data di lapangan secara primer. Contohnya : melakukan survei ke daerah-daerah rawan kebakaran hutan. Sedangkan, pengawasan dapat dilihat melalui 2 pendekatan, yaitu :
o Preventif : kegiatan pengawasan untuk pencegahan sebelum terjadinya perusakan lingkungan (pembakaran hutan). Contohnya : pengawasan untuk menentukan status ketika akan terjadi kebakaran hutan
o Represif : kegiatan pengawasan yang bertujuan untuk menanggulangi perusakan yang sedang terjadi atau telah terjadi serta akibat-akibatnya sesudah terjadinya kerusakan lingkungan. Untuk mendukung keberhasilan, upaya pencegahan yang sudah dikemukakan diatas, diperlukan berbagai pengembangan fasilitas pendukung yang meliputi :
1. Pengembangan dan sosialisasi hasil pemetaan kawasan rawan kebakaran hutan Hasil pemetaan sebisa mungkin dibuat sampai sedetail mungkin dan disebarkan pada berbagai instansi terkait sehingga bisa digunakan sebagai pedoman kegiatan institusi yang berkepentingan di setiap unit kawasan atau daerah.
2. Pengembangan organisasi penyelenggara Pencegahan Kebakaran Hutan Pencegahan Kebakaran Hutan perlu dilakukan secara terpadu antar sektor, tingkatan dan daerah. Peran serta masyarakat menjadi kunci dari keberhasilan upaya pencegahan ini. Sementara itu, aparatur pemerintah, militer dan kepolisian, serta kalangan swasta perlu menyediakan fasilitas yang memadai untuk memungkinkan terselenggaranya Pencegahan Kebakaran Hutan secara efisien dan efektif.
3. Pengembangan sistem komunikasi Sistem komunikasi perlu dikembangkan seoptimal mungkin sehingga koordinasi antar tingkatan (daerah sampai pusat) maupun antar daerah bisa berjalan cepat. Hal ini akan mendukung kelancaran early warning system, transfer data, dan sosialisasi kebijakan yangberkaitan dengan kebakaran hutan
2.11 Penanggulan Kebakaran Hutan di Indonesia
Penanggulangan hutan di Indonesia telah di atur dengan jelas di dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P.12/Menhut-Ii/2009 Tentang Pengendalian Kebakaran Hutan. Adapun upaya penanggulangan yang dimaktub tersebut antara lain:
1. Memberdayakan sejumlah posko yang bertugas menanggulangi kebakaran hutan di semua tingkatan. Pemberdayaan ini juga harus disertai dengan langkah pembinaan terkait tindakan apa saja yang harus dilakukan jika kawasan hutan telah memasuki status Siaga I dan juga Siaga II.
2. Memindahkan segala macam sumber daya baik itu manusia, perlengkapan serta dana pada semua tingkatan mulai dari jajaran Kementrian Kehutanan hingga instansi lain bahkan juga pihak swasta.
3. Memantapkan koordinasi antara sesame instansi yang saling terkait melalui dengan PUSDALKARHUTNAS dan juga di lever daerah dengan PUSDALKARHUTDA tingkat I dan SATLAK kebakaran lahan dan juga hutan.
4. Bekerjasama dengan pihak luar seperti Negara lainnya dalam hal menanggulangi kebakaran hutan. Negara yang potensial adalah Negara yang berbatasan dengan kita misalnya dengan Malaysia berama pasukan BOMBA-nya. Atau juga dengan Australia bahkan Amerika Serikat. Upaya penanggulangan kebakaran hutan ini tentunya harus sinkron dengan upaya pencegahan. Sebab walau bagaimanapun, pencegahan jauh lebih baik dari memanggulangi. Ada beragam cara yang bisa dilakukan dalam rangka mencegah kebakaran hutan khususnya yang disebabkan oleh perbuatan manusia seperti membuang punting rokok di wilayah yang kering, kegiatan pembukaan lahan dan juga api unggun yang lupa dimatikan. Upaya pencegahannya adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya mereka yang berhubungan langsung dengan hutan. Masyarakat ini biasanya tinggal di wilayah hutan dan memperluas area pertaniannya dengan membakar. Pemerintah harus serius mengadakan sosialisi agar hal ini bisa dicegah. Pada dasarnya upaya penanggulangan kebakaran hutan juga bisa disempurnakan jika pemerintah mau memanfaatkan teknologi semacam bom air. Atau bisa juga lebih lanjut ditemukan metode yang lebih efisien dan ampuh menaklukkan kobaran api di hutan. Langkah yang paling baik adalah dengan mengikutsertakan para perangkat pendidikan agar merancang teknologi maupun metode yang membantu pemerintah di level praktis. Sokongan dana dari pemerintah akan membuat program tersebut lebih baik dan terarah.
2.12 Beberapa Kasus Kebakaran Hutan yang Terjadi Didunia
2.12.1 Kebakaran Hutan di Riau
 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menangkap seorang petani saat membersihkan lahan dengan cara membakar di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Penangkapan dilakukan saat BNPB melakukan patroli. “Kejadiannya beberapa hari lalu saat tim melakukan patroli udara dan darat,” kata Humas BNPB Agus Wibowo di Pekanbaru, Minggu (21/7) seperti dikutip Antara. Dia menjelaskan, pelaku yang teriindikasi sebagai petani pemilik lahan di Kabupaten Siak ini diamankan oleh tim pemantau yang terdiri atas pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI), masyarakat dan Polri. “Sampai saat ini patroli masih terus berjalan dengan dikoordinir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau,” katanya Dengan tertangkapnya seorang pelaku pembakar hutan ini, maka total jumlah pembakar lahan perorangan ada sebanyak 25 orang. Saat ini Polda Riau juga tengah melakukan penyelidikan terhadap 12 kasus dan 5 kasus penyidikan dengan tersangka 24 orang dan satu korporasi. Sebanyak 24 tersangka tersebut merupakan pelaku pembakar hutan maupun individu yang memang ingin memperluas lahan dengan menyuruh membakar hutan. Hingga saat ini dilaporkan situasi di Riau semakin kondusif meskipun pada peristiwa pembakaran hutan tersebut dua orang dicatat meninggal yang mana satu orang bahkan turut terbakar. Sementara untuk kasus pembakaran hutan yang melibatkan perusahaan perkebunan di Provinsi Riau masih ‘menggantung’. Sejauh ini Polda Riau belum juga menetapkan tersangka pada kasus yang terindikasi melibatkan sebuah perusahaan perkebunan, PT Adei Plantation (AP). Untuk memperkuat dugaan itu, Polda Riau berencana mengambil keterangan saksi ahli. Saksi ahli yang rencana didatangkan ada beberapa, di mana menurut informasi kepolisian saksi tersebut dari pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan akademisi. Polda Riau sebelumnya juga telah memeriksa sebanyak 16 saksi dari kalangan karyawan dan pejabat perusahaan diduga pembakar lahan.
2.12.2 Kebakaran Hutan di Sydney
 Langit di atas pelabuhan kota Sydney berubah menjadi memerah pada Kamis kemarin akibat kebakaran hutan di sebagian besar area di negara bagian New South Wales (NSW), Australia. Menurut laporan petugas pemadam kebakaran, terdapat hampir 100 titik api yang ada di Australia bagian tenggara itu. Kantor berita BBC, Kamis 17 Oktober 2013, melansir, sebanyak 200 rumah diperkirakan ikut terbakar dalam insiden tersebut. Jumlah itu masih dapat terus bertambah, karena petugas pemadam kebakaran hingga kini masih menghitung. Akibat kebakaran tersebut, satu orang dilaporkan tewas saat sedang berusaha melindungi rumahnya di Danau Munmorah di Central Coast agar tidak ikut terbakar. Korban tewas adalah pria berusia 63 tahun dan meregang nyawa akibat serangan jantung pada Kamis sore waktu setempat. Tiga pemadam kebakaran terluka. Dugaan sementara, kebakaran disebabkan suhu udara yang sangat panas dan angin kencang. Kendati suhu udara dan kecepatan angin sudah mulai menurun, namun kebakaran masih terus terjadi di pinggiran kota Sydney. Menurut laporan BBC, sekitar dua ribu petugas pemadam kebakaran dikerahkan ke seluruh negara bagian untuk mengendalikan si jago merah. Namun, masih banyak titik api yang di luar kendali mereka. Wakil Kepala Layanan Pemadam Kebakaran Pedesaan NSW, Rob Rogers, mengatakan ini merupakan kondisi kebakaran terparah yang pernah dia lihat dalam satu dekade terakhir. “Ada ribuan kilometer area yang terbakar api dan harus kami padamkan,” ujar Rogers. Hal serupa turut diperkuat kesaksian petugas pemadam kebakaran lainnya yang menyebut ketinggian api mencapai 20 hingga 30 meter. Perdana Menteri, Tony Abbott, yang mengetahui soal bencana ini, berkunjung ke daerah Blue Mountain, area terparah yang terkena bencana. Abbott mengaku salut terhadap upaya para petugas pemadam kebakaran. “Orang-orang ini adalah sosok yang pada hari biasa bersama-sama mendukung dan melindungi sesama warga Australia,” ungkap Abbott. Untuk sementara ini, api memang dapat dikendalikan, namun suhu panas diprediksi akan kembali melanda NSW mulai pekan depan. Menurut laporan Dailymail, kebakaran hutan kerap terjadi di Negeri Kangguru saat suhu udara tinggi. Aksi kebakaran terparah lainnya pernah terjadi di tahun 2009 silam yang menyebabkan 173 orang tewas dan melalap dua ribu rumah di Negara Bagian Victoria.
 2.12.3 Kebakaran Hutan di California
 Kebakaran hutan di California telah menghanguskan lebih dari 100 bangunan, termasuk 11 rumah, dan menghanguskan areal hutan seluas 155 kilometer persegi. Petugas pemadam kebakaran yang berjuang mengatasi kebakaran besar di negara bagian California yang telah menghanguskan hutan luas di salah satu taman nasional terkenal mengatakan mereka seharusnya akan memadamkan kebakaran itu sepenuhnya minggu ini. Dinas Kehutanan Amerika memperkirakan yang disebut Lingkar Kebakaran di Taman Nasional Yosemite dan sekitarnya akan dipadamkan 100 persen hari Jumat. Hingga Kamis tengah hari, kebakaran itu 84 persen dipadamkan dan telah menghanguskan 104.000 hektar lahan. Jay Millier, ekolog senior kebakaran hutan hari Kamis memberitahu Associated Press kebakaran besar itu telah membuat wilayah mirip permukaan bulan yang “dinuklir” di pegunungan Sierra Nevada yang lebih besar dari wilayah manapun yang pernah terbakar dalam ratusan tahun. Dia mengatakan tidak ada lagi yang tersisa di hampir 40 persen wilayah lokasi kebakaran kecuali lahan hangus. Pemerintah Amerika pekan lalu mengatakan Lingkar Api itu disebabkan oleh seorang pemburu yang tidak dapat mengendalikan api unggun ilegal yang dinyalakannya pada tanggal 17 Agustus. Dinas Kehutanan Amerika mengatakan belum ada orang yang ditahan dalam kasus itu. Kebakaran itu telah menghanguskan lebih dari 100 bangunan, termasuk 11 rumah, dan membuat area seluas 155 kilometer persegi dalam keadaan mati semuanya.